OMAI Penguatan Brand Herbal Indonesia – Pemerintah peduli terhadap pengembangan obat herbal, yakni Obat Modern Asli Indonesia (OMAI). Terkait hal ini, Badan POM berperan mendampingi riset dan hilirisasi produk secara bertahap, sehingga produk herbal menjadi obat yang terbukti secara klinis. Tugas Badan POM memastikan produk herbal dapat diproduksi, didistribusikan, dan dikonsumsi dalam kondisi baik, aman dan bermutu.

Demikian antara lain, dikemukakan Kepala Badan POM, Penny K. Lukito saat memberikan arahan pada “Focus Group Discussion (FGD) dan Bimbingan Teknis Jamu” secara daring, pada Rabu, 15 Juli 2020. Kegiatan ini dalam rangka pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah

(UMKM), dan Usaha Jamu Gendong (UJG) untuk meningkatkan keamanan dan mutu produk di masa pandemi COVID-19.

Diikuti oleh peserta dari UMKM Jamu dan Usaha Jamu Gendong yang berada di provinsi Jawa Tengah, Yogyakarta, Banten dan DKI Jakarta. Sejumlah narasumber yang tampil pada FGD adalah: Kantor Kemenko PMK menyajikan makalah “Jamu sebagai Warisan Budaya” dibawakan oleh Plt. Asisten Deputi Warisan Budaya, Dwi Harjanto Muhamad.

Ketua Komunitas EMPU-Komunitas Serat dan Feysen Bekelanjutan, Leya Cattleya memaparkan tema “Potret Jamu Gendong Masa Kini”. Kepala Dinas Koperasi dan UKM Daerah Istimewa Yogyakarta, Srie Nurkyatsiwi membahas “Harapan UMKM”. Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengupas “Usaha Jamu Gedong di Provinsi DKI Jakarta”. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah menyajikan makalah “Pembinaan Usaha Jamu Gendong dalam Upaya Peningkatan Kesehatan Masyarat.”

Sedangkan pada Sesi Bimbingan Teknis menampilkan empat pembicara yaitu: Nuning S. Barwa (Martha Tilaar), Karyanto (Founder JamuDigital), Victor S. RingoRingo (PT. Deltomed) dan Rachmat Sarwono (PT Borobudur).

Karyanto saat memaparkan tema “Digitalisasi Pemasaran Jamu”, antara lain mengupas masih lemahnya brand produk herbal atau produk Jamu, jika dibandingkan produk serupa dari negara lain. Menurut Sarjana Farmasi- Alumni Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) itu, salah satu yang harus dan perlu ditingkatkan adalah branding herbal atau Jamu Indonesia.

“Salah satu kelemahan produk herbal Indonesia adalah belum kuatnya brand, jika misalnya dbandingkan brand TCM-Traditional Chinese Medicine, atau Ayuverda-India. Padahal secara resources bahan baku, posisi herbal Indonesia lebih unggul dari China dan India. Padahal dari segi SDM ahli farmasi dan ahli kedokteran yang mampu meriset herbal atau Jamu, Indonesia juga mumpuni,” urai Karyanto.

Dia kemudian menyoroti maraknya publikasi tentang OMAI- Obat Modern Asli Indonesia yang bergulir akhir-akhir ini, oleh berbagai lembaga seperti: Kemenristek, Kemenperin, Kemenkes, Badan POM dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia, dinilainya sebagai bentuk upaya untuk mengembangkan herbal dan meningkatkan trust produk herbal Indonesia kepada profesi kesehatan dan masyarakat luas.

“Produk herbal Indonesia yang sudah diriset menjadi OMAI sudah semestinya, apabila diresepkan para dokter di rumah sakit atau di klinik-klinik,” jelas Karyanto- seraya menambahkan bahwa para tenaga kesehatan di rumah sakit di sejumlah negara ASEAN, ternyata sudah meresepkan sejumlah produk herbal asli Indonesia.

Sejatinya, Karyanto menambahkan bahwa produk Jamu dan OMAI- sudah banyak juga yang dipasarkan ke berbagai negara. Kehadiran produk herbal Indonesia diberbagai negara itu, jika terus dilakukan dan juga didukung upaya penguatan brand herbal Indonesia- diharapkan suatu ketika akan dapat menjadi nation branding. Produk herbal OMAI, produk Jamu Indonesia

mendunia, menurut saya sih… tinggal menunggu waktu saja. Asalkan didukung sinergi lintas sektor.

“Saya memberi apresiasi kepada Badan POM yang saya amati selama tiga tahun ini, konsisten mendukung pengembangan Herbal/Jamu Indonesia. Dari penyediaan policy, dorongan untuk hilirisasi riset herbal, pembentukan Satgas Fitofarmaka dan Bimtek untuk pengembangan herbal dan Jamu Indonesia,” tandasnya. *Program Edukasi OMAI- Obat Modern Asli Indonesia.

Share This