Omai.co.id – Sejumlah kendala terkait pengembangan obat berbahan baku alam yaitu obat modern asli indonesia masih saja menjadi permasalahan, yang mengakibatkan OMAI obat modern asli indonesia kurang bisa bersaing dengan obat kimia terutama obat kimia yang berasal dari impor. Padahal kita tahu Obat Modern Asli Indonesia Untuk Kemandirian Industri Farmasi Nasional sangat dibutuhkan sebagai kemandirian obat nasional.

Diketahui sekitar 90 persen bahan baku obat yang digunakan oleh industri farmasi di Indonesia masih impor. Hal ini disampaikan oleh Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro, Jumat (6/11/2020) pada webinar yang bertema ”Pengembangan OMAI (Obat Modern Asli Indonesia) untuk Kemandirian Obat Nasional”, Ketergantungan terkait bahan obat impor disebabkan karena teknologi industri kimia di Indonesia masih sangat tertinggal, apalagi jika dibandingkan dengan negara lain.

Keberagaman hayati yang ada di darat maupun yang ada di laut Negara Indonesia benar – benar memiliki kekayaan alam yang beragam. Jika 90 persen bahan baku obat yang digunakan oleh industri farmasi di Indonesia masih impor, Presiden Jokowi mengatakan “hal ini jelas bisa membuat boros devisa negara, menambah defisit neraca transaksi berjalan, dan dapat membuat industri farmasi yang ada di Indonesia tidak bisa tumbuh dengan baik,” dalam video yang ditayangkan kanal Youtube Sekretariat Presiden, Kamis (5/11/2020).

”Kekayaan keragaman hayati Indonesia harus dijadikan modal dasar dalam kebangkitan industri obat dalam negeri. Keragaman hayati harus dimanfaatkan untuk memperkuat ketahanan masyarakat di bidang kesehatan. Obat fitofarmaka juga perlu difasilitasi untuk melewati uji klinis dan standardisasi sehingga menjadi pilihan pengobatan promotif dan preventif,” ujar Presiden Jokowi.

Menurut Presiden Jokowi, berdikari dalam alat kesehatan dan terutama dalam industri obat-obatan harus bisa diprioritaskan. Untuk itu, diperlukan berbagai cara yang luar biasa, apalagi semua sedang berada dalam situasi pandemi Covid-19. Cara luar biasa tersebut yaitu menggabungkan para akademisi, ilmuwan, pemerintah, dan dunia industri supaya bisa bekerja bersama.

Kemandirian terkait Industri Farmasi Nasional sangat diperlukan karena pandemi Covid-19 membangkitkan rasa krisis pada dunia farmasi. Riset, inovasi, dan revitalisasi industri bahan baku obat yang ada didalam negeri maupun penguatan struktur industri farmasi dalam negeri tak bisa dilakukan seadanya.

”Kekayaan keragaman hayati Indonesia harus dijadikan modal dasar dalam kebangkitan industri obat dalam negeri. Keragaman hayati harus dimanfaatkan untuk memperkuat ketahanan masyarakat di bidang kesehatan. Obat fitofarmaka juga perlu difasilitasi untuk melewati uji klinis dan standardisasi sehingga menjadi pilihan pengobatan promotif dan preventif,” ujar Presiden Jokowi.

Berharap, kebangkitan industri farmasi nasional dapat memperkuat perekonomian nasional baik di hulu maupun di hilir industri. Lebih jauh lagi, hal ini pasti juga  akan berhubungan dengan kesejahteraan para petani serta UMKM.

Di tengah pandemi Covid-19, Presiden Joko Widodo juga mengajak seluruh elemen masyarakat mulai dari dokter, perawat, apoteker, hingga profesi lainnya untuk ikut menyukseskan program vaksinasi Covid-19.

”Saya mengajak peran serta dalam rantai produksi, distribusi, dan pelayanan vaksinasi dengan memberikan pelatihan teknis terkait penanganan vaksin, serta bisa berperan menjadi promotor dan memberikan edukasi tentang vaksin,” kata Presiden Jokowi.

sumber

Share This